Baterai Ion Lithium

Baterai Lithium-Ion BLC-2 dari Nokia

Baterai Ion Lithium

Baterai Lithium-Ion BLC-2 dari Nokia
Baterai Lithium-Ion BLC-2 dari Nokia

Pengantar

Baterai lithium-ion atau baterai Li-ion (disingkat LIB) adalah jenis baterai yang dapat diisi ulang. Baterai lithium-ion umumnya digunakan untuk perangkat elektronik portabel dan kendaraan listrik. Saat ini baterai Li-ion semakin populer untuk aplikasi militer dan penerbangan.
Prototipe baterai Li-ion dikembangkan oleh Akira Yoshino pada tahun 1985, berdasarkan penelitian sebelumnya oleh John Goodenough, M. Stanley Whittingham, Rachid Yazami dan Koichi Mizushima dari tahun 1970-an hingga 1980-an. Baterai Li-ion komersial dikembangkan oleh tim gabungan dari perusahaan Sony dan Asahi Kasei yang dipimpin oleh Yoshio Nishi pada tahun 1991. Pada tahun 2019, Hadiah Nobel Kimia diberikan kepada Yoshino, Goodenough, dan Whittingham untuk pengembangan baterai ion lithium.

Dalam baterai Li-ion, ion lithium bergerak dari elektroda negatif melalui elektrolit ke elektroda positif selama pelepasan, dan kembali saat pengisian. Baterai Li-ion menggunakan senyawa litium interkalasi sebagai bahan pada elektroda positif dan biasanya grafit pada elektroda negatif. Baterai memiliki kepadatan energi yang tinggi. Baterai Li-ion tidak memiliki efek memori (kecuali sel LFP) [14] dan pengosongan-sendiri (self-discharge) rendah.
Namun baterai Li-ion ini daoat menjadi berbahaya karena mengandung elektrolit yang mudah terbakar, dan jika rusak atau tidak diisi dengan benar dapat menyebabkan ledakan dan kebakaran. Samsung terpaksa menarik kembali handset Galaxy Note 7 setelah kebakaran lithium-ion, dan ada beberapa insiden yang melibatkan baterai pada pesawat Boeing 787.

Karakteristik kimia, kinerja, biaya, dan keselamatan berbeda-beda untuk setiap jenis LIB. Perangkat elektronik genggam kebanyakan menggunakan baterai polimer lithium (dengan gel polimer sebagai elektrolit) dengan lithium cobalt oxide (LiCoO2) sebagai bahan katoda, yang menawarkan kepadatan energi tinggi, tetapi risiko keamanan cukup tinggi terutama ketika terjadi kerusakan pada sel.
Lithium iron phosphate (LiFePO4), baterai lithium ion mangan oksida (LiMn2O4, Li2MnO3, atau LMO), dan lithium nikel nikel kobalt oksida (LiNiMnCoO2 atau NMC) menawarkan kepadatan energi yang lebih rendah tetapi umur yang lebih panjang dan kemungkinan kebakaran atau ledakan yang lebih kecil. Baterai seperti ini banyak digunakan untuk peralatan listrik, peralatan medis, dan peranan lainnya. NMC dan turunannya banyak digunakan pada kendaraan listrik.

Penelitian di baterai Li-ion masih aktif. Bidang penelitian untuk baterai lithium-ion di antaranya memperpanjang masa pakai, meningkatkan kepadatan energi, meningkatkan keselamatan, mengurangi biaya, dan meningkatkan kecepatan pengisian. Penelitian telah dilakukan di bidang elektrolit yang tidak mudah terbakar sebagai jalan untuk meningkatkan keamanan berdasarkan sifat mudah terbakar dan mudah menguap dari pelarut organik yang digunakan dalam elektrolit.
Strategi termasuk baterai lithium dengan elektrolit berbasis air (aqueous lithium-ion), elektrolit keramik padat, elektrolit polimer, cairan ionik, dan sistem berbasis senyawa fluor.

Terminologi

under construction

Sejarah

under construction

Konstruksi

under construction

Elektrokimia

under construction

Pengisian dan pengosongan

under construction

Unjuk Kerja

under construction

Bahan

under construction

Penggunaan

under construction

Pengosongan-sendiri

under construction

Umur Baterai

under construction

Keamanan

under construction

Impak Lingkungan Dan Daur Ulang

under construction

Penelitian

under construction

Referensi

  • https://en.wikipedia.org/wiki/Lithium-ion_battery

One thought on “Baterai Ion Lithium

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.