Pertanyaan: “batere 9 volt berapa watt”, atau “berapakah kemampuan daya yang dapat diberikan batere 9 volt”.
Batere 9 volt Alkaline (kiri) dan seng-karbon (kanan)
Daya dengan satuan watt dengan simbol “P”.
Rumusnya daya adalah P = V x I, dengan
P: daya
V: tegangan
I: arus
Permasalahannya adalah tegangan dan arus pada batere tidak konstan, jadi perlu mencari dulu kurva tegangan dan arus pada batere tersebut. Umumnya makin sedikit kapasitas tersisa pada batere, maka tegangannya akan makin kecil.
Pada artikel “Batere 9 volt berapa ampere” sebelumnya sudah didapat contoh pengujian batere 9 volt dengan tabel sebagai berikut
Tegangan berubah terhadap kapasitas. Untuk mudahnya dapat kita anggap tegangan batere Energizer Industrial adalah 7 volt. Tegangan batere Panasonic dianggap rata-rata 5 volt.
Kurva pengosongan batere 9 volt pada 500 mA
Tegangan berubah terhadap kapasitas. Untuk mudahnya dapat kita anggap tegangan batere Energizer Industrial adalah 6 volt.
Kurva pengosongan batere 9 volt pada 1 ampere
Tegangan berubah terhadap kapasitas. Untuk mudahnya dapat kita anggap tegangan batere Energizer Industrial adalah 5 volt.
Kesimpulan
Berikut ini rangkuman hasil perhitungan di atas untuk batere pada berbagai arus.
Jenis batere
Arus
Tegangan
Durasi
Daya
Alkaline 9 volt Energizer
100 mA
7 volt
4,5 jam
0,7 watt
Alkaline 9 volt Energizer
500 mA
6 volt
36 menit
3 watt
Alkaline 9 volt Energizer
1000 mA
5 volt
13,8 menit
5 watt
Seng mangan Panasonic
100 mA
5 volt
31,2 menit
0,5 watt
Dari tabel di atas nampak bahwa batere alkaline dapat memberikan daya sampai 5 watt, namun dengan tegangan 5 volt, sangat jauh dari 9 volt (ideal). Untuk pemakaian normal, nampaknya yang lebih masuk akal adalan menggunakan batere tersebut dengan arus 100 mA, dengan daya 0,7 watt selama 4,5 jam.
Batere seng mangan 9 volt tidak kuat kalau dipaksa memberi arus 100 mA, hanya dapat memberi daya 0,5 watt selama 31,2 menit.
Jawaban: tergantung jenis dan model batere 9 volt tersebut.
Berikut ini ilustrasi batere 9 volt alkaline dan batere 9 volt seng karbon (zinc carbon). Batere ini bukan yang dipakai pada pembahasan di bawah, namun hanya mirip-mirip saja.
Batere 9 volt Alkaline (kiri) dan seng-karbon (kanan)
Untuk mengetahui kemampuan arus, kita perlu melihat kurva pengosongan (discharge curve) untuk batere tersebut.
Artikel tersebut menguji beberapa batere alkaline 9 volt sampai dengan arus 1000 mA atau 1 ampere. Jadi dapat disimpulkan batere 9 volt alkaline dapat memberikan arus sampai 1 ampere.
Namun demikian ternyata arus yang besar menyebabkan kapasitas batere yang dapat dipakai berkurang.
Berikut ini tabel dari artikel tersebut, hanya dipilih 2 tipe batere saja: Energizer Industrial alkaline, dan Panasonic Super Heavy Duty, mengingat model ini yang paling mirip dengan yang dapat diperoleh di Indonesia.
Jenis batere
Merek
kapasitas dengan arus 100 mA
kapasitas dengan arus 500 mA
kapasitas dengan arus 1000 mA
9 volt alkaline
Energizer Industrial
450 mAh
330 mAh
230 mAh
9 volt carbon zinc
Panasonic Super Heavy Duty
52 mAh
–
–
Pertanyaan lanjutan: berapa lama umur batere tersebut?
Umur Batere pada Berbagai Arus
Kasus #1: Energizer Industrial pada arus 100 mA
kapasitas 450 mAh, arus 100 mA, jadi umur = 450/100 = 4,5 jam
Kasus #2: Energizer Industrial pada arus 500 mA
kapasitas 330 mAh, arus 500 mA, jadi umur = 330/500 = 0,6 jam = 36 menit
Kasus #3: Energizer Industrial pada arus 1000 mA
kapasitas 230mAh, arus 1000mA, jadi umur = 230/1000 = 0,23 jam = 13,8 menit
Kasus #4: Panasonic Heavy Duty pada arus 100 mA
kapasitas 52 mAh, arus 100 mA, maka umur = 52 / 100 = 0,52 jam = 31,2 menit
Kesimpulan
Berikut ini kemampuan arus batere alkaline dan seng karbon pada berbagai arus. Angka ini hanya berlaku untuk model tertentu saja, jadi kalau mau diaplikasikan di Indonesia masih perlu disesuaikan lagi. Namun setidaknya dapat memberikan gambaran berapa kira-kira kapasitas batere 9 volt alkaline dan seng karbon.
Batere alkaline 9 volt: arus 100 mA selama 4,5 jam
Batere alkaline 9 volt: arus 500 mA selama 36 menit
Batere alkaline 9 volt: arus 1 ampere selama 13,8 menit
Batere seng karbon 9 volt: arus 100 mA selama 31,2 menit
Dalam dunia kelistrikan, kita sering perlu melakukan konversi besaran listrik.
Namun demikian kadang-kadang timbul pertanyaan bagaimana mengaitkan satu besaran ke besaran lain yang berbeda, misal ada pertanyaan “1 volt berapa mAh”. Permasalahannya adalah “volt” dan “mAh” adalah besaran yang berbeda, sehingga sebenarnya tidak dapat langsung dikonversikan satu sama lain. Untuk melakukan konversi perlu diketahui konteks pertanyaan tersebut.
Konversi Besaran Listrik
Berikut ini daftar konversi besaran listrik terutama yang terkait dengan perangkat gadget elektronik yang biasa kita pakai sehari-hari
Keduanya punya fungsi berbeda. Lebih baik jika pasang dua-duanya.
Penangkal petir mengatasi masalah sambaran langsung.
Surge arrester mengatasi masalah sambaran tidak langsung.
Penangkal petir fungsinya agar sambaran petir tidak mengenai bangunan atau perangkat. Arus dari petir dibuang ke tanah pakai kabel besar. Jika arus itu lewat bangunan, maka bangunannya bisa terbakar/rusak.
Arus dari petir dapat menimbulkan medan magnet, yang bisa masuk ke kabel listrik ataupun kabel lain di dekatnya. Induksi arus ini dapat masuk ke perangkat elektronik. Surge arrester fungsinya membuang arus / tegangan lebih pada kabel-kabel ke tanah, jadi arus tersebut tidak masuk ke perangkat.
Suatu sistem filter digital secara prinsip sederhana mengubah sinyal analog menjadi digital, kemudian mengolah sinyal digital tersebut dengan algoritma tertentu, kemudian mengubah sinyal digital kembali menjadi sinyal analog. Secara diagram blok dapat digambarkan sebagai berikut:
Sistem filter digital
Filter digital dapat diimplementasikan dengan beberapa cara, di antaranya dengan sistem mikroprosesor dan sistem digital seperti FPGA (Filed Programmable Gate Array).
Dalam prakteknya, sistem tersebut perlu beberapa tambahan subsistem/modul supaya dapat diimplementasikan secara nyata.
Berikut ini sistem lengkap filter digital untuk diimplementasikan dengan sistem mikroprosesor:
Detail sistem filter digital versi 1
Penjelasan Sistem Filter Digital Sederhana
Input: sinyal input berasal dari input, misal untuk sistem audio dapat berupa mikrofon, atau MP3 player, atau komputer.
Sinyal input ini memiliki level tegangan dan impedansi tertentu. Seringkali sinyal ini perlu diperkuat dulu. Misal mikrofon biasanya memiliki kuat sinyal puluhan sampai ratusan milivolt dengan impedansi ratusan ohm.
Penguat: Penguat memiliki fungsi buffering dan juga menyesuaikan amplitudo supaya cocok dengan amplitudo dari ADC yang dipakai.
Pengubah Level Tegangan: tegangan input berupa tegangan bolak-balik, bisa saja memiliki tegangan positif dan negatif. ADC yang dipakai seringkali hanya dapat menerima tegangan positif, sehingga tegangan input mesti digeser agar menjadi positif.
Low Pass Filter (anti aliasing): sesuai teori sinyal, frekuensi sampling setidaknya memiliki frekuensi 2x frekuensi kerja sinyal yang diukur. Sinyal input yang lebih dari 1/2 frekuensi sampling harus ditapis supaya tidak terjadi aliasing.
ADC (Analog to Digital Converter): mengubah tegangan analog menjadi suatu angka digital, dengan resolusi bit tertentu, dan kecepatan sampling tertentu.
Filter Digital: melakukan proses pengolahan sinyal yang diinginkan, dapat berupa LPF (low pass filter) , HPF (high pass filter), BPF (band pass filter), BSF (band stop filter) ataupun Equalizer.
Digital to Analog Converter: mengubah sinyal digital menjadi sinyal analog. Umumnya menggunakan prinsip ZoH (Zero order Hold).
Reconstruction Filter: sinyal dari Zero order Hold memiliki bentuk seperti anak tangga (staircase), sehingga memiliki komponen frekuensi tinggi. Untuk itu perlu ada filter rekonstruksi yang menghilangkan komponen frekuensi tinggi tersebut. Selain itu ZoH juga mengubah respon frekuensi, yaitu memberi redaman di frekuensi tinggi. Idealnya reconstruction filter juga mengkompensasi hal tersebut.
Penguat: untuk menyesuaikan level tegangan dan impedansi dari DAC ke tahap selanjutnya
Power supply: implisit semua sistem elektronika perlu power supply. Sistem pengolah digital ada bagian analog dan digital, sehingga masing-masing perlu level tegangan dan power supply tersendiri.
Kelemahan Sistem Filter Digital Sederhana
Sistem di atas sudah dapat berfungsi dengan baik, namun memiliki beberapa kelemahan.
Masalah pertama: konversi analog ke digital
filter anti aliasing sulit untuk dibuat ‘tajam’, sehingga frekuensi sampling mesti jauh lebih tinggi daripada frekuensi kerja sinyal. Jika frekuensi sampling terlalu dekat, respon frekuensi kerja terpengaruh oleh anti aliasing filter, atau juga sebagian sinyal frekuensi tinggi dapat menembus filter anti aliasing.
akibat frekuensi sampling tinggi, maka bagian filter digital mesti bekerja pada frekuensi lebih tinggi daripada frekuensi kerja sinyal.
hal ini juga berpengaruh jika sinyal perlu disimpan: storage akan membesar
hal ini juga berpengaruh jika sinyal perlu dikirim: keperluan bandwidth komunikasi membesar.
solusi: sampling dilakukan dengan frekuensi tinggi, namun frekuensi sampling diturunkan (downsampling) sebelum sinyal diolah/dikirim/disimpan.
pada proses downsampling, sinyal perlu difilter secara digital supaya tidak terjadi aliasing. proses filter digital lebih mudah dibandingkan filter analog, terutama karena masalah ketelitian nilai komponen analog.
Masalah kedua: konversi digital ke analog
Zero order Hold pada DAC mempunyai respon frekuensi sinc(), sehingga ada redaman di frekuensi tinggi
solusi 1: sinyal digital diubah ke frekuensi tinggi sebelum masuk ke DAC, dengan demikian pengaruh redaman frekuensi tinggi berkurang.
solusi 2: sinyal digital diperkuat dulu di frekuensi tinggi dengan equalizer, supaya dapat mengkompensasi redaman di frekuensi tinggi.
Berikut ini proses ekualisasi sinyal untuk kompensasi pengaruh ZoH.
Ekualisasi sinyal digital to analog
Pada solusi (a) proses ekualisasi dilakukan secara digital sebelum DAC , disebut sebagai tahap pre-equalization.
Pada solusi (b) proses ekualisasi dilakukan secara analog setelah LPF, disebut sebagai tahap post-equalization.
Sistem Lengkap
Berikut ini blok diagram sistem filter digital dengan tambahan solusi-solusi supaya mengurangi permasalahan-permasalahan.
Sistem filter digital lengkap versi 2
Pada sistem ini dipilih pre-ekualisasi secara digital , dengan pertimbangan merancang equalizer secara digital lebih mudah. Proses pembuatan equalizer ini dapat dilakukan dengan metode ‘Design of FIR Filters Using the Frequency Sampling Method’.
Suatu sinyal analog dapat diubah menjadi digital dan sebaliknya. Teknik ini memiliki beberapa manfaat. Pada tulisan ini hanya dibahas contoh aplikasi yang bersifat LTI (Linear Time Invariant).
Berikut ini contoh beberapa sistem yang di dalamnya terdapat sinyal analog dan sinyal digital:
undersampling / decimation pada pengolahan sinyal digital
Filter Digital
Sistem filter digital dengan input analog dan output digital
Pada sistem ini sinyal analog diubah dulu menjadi digital, untuk kemudian dilakukan proses filtering (tapisan) secara digital. Setelah itu sinyal tersebut dikembalikan menjadi sinyal analog.
Jenis tapisan yang umum:
LPF: low pass filter
HPF: high pass filter
BPF: band pass filter
BSF: band stop filter
Proses tapisan (filter) dapat dilakukan di domain analog, namun dalam beberapa kasus terdapat kelebihan pada filter digital, sehingga lebih baik jika proses tapisan dilakuan di domain digital.
Equalizer Digital
Sistem equalizer digital dengan input analog dan output analog
Pada sistem ini sinyal analog diubah dulu menjadi digital, untuk kemudian dilakukan proses ekualisasi secara digital. Setelah itu sinyal tersebut dikembalikan menjadi sinyal analog.
Proses ekualisasi adalah proses mengubah komposisi frekuensi pada suatu sinyal (wikipedia)
Perekam Digital Dengan Input Output Analog
Sistem perekam digital
Pada sistem ini sinyal analog diubah dulu menjadi digital, untuk kemudian disimpan di suatu media. Setelah itu sinyal yang telah disimpan dapat dibaca dan dikeluarkan pada waktu lain. Setelah itu sinyal tersebut dikembalikan menjadi sinyal analog.
Sistem Komunikasi Digital Dengan Input Output Analog
Sistem komunikasi digital
Pada sistem ini sinyal analog diubah dulu menjadi digital, untuk kemudian dikirim oleh pemancar melalui suatu media komunikasi . Di penerima sinyal diubah lagi menjadi sinyal digital.. Setelah itu sinyal tersebut dikembalikan menjadi sinyal analog.
Komunikasi digital memiliki beberapa kelebihan dibandingkan komunikasi analog.
mau rakit ampli menggunakan trafo ct 18 VAC tapi setelah melewati dioda kiprok kok jadi 34 VDC
Rangkaian tersebut adalah full-wave bridge rectifier, dengan skema sebagai berikut (sumber):
Bentuk sinyal dari rangkaian di atas masih belum rata, karena belum ada kapasitor filter.
Tegangan input mengambil dari terminal 18 volt dan 18 , sedangkan transformator mempunya center tap (CT), sehingga tegangan AC yang masuk ke dioda bridge adalah 18 volt rms (root mean square).
Untuk menggambarkan sinyal ini, perlu diubah menjadi tegangan puncak, dengan rumus Vpeak = Vrms * 1.414, sehingga Vpeak = 36 x 1.414 = 50.904 volt
Bentuk tegangan output bridge adalah seperti sebagai berikut (sinyal warna hijau), dibandingkan dengan sinyal input (warna merah):
Sebenarnya sinyal output bridge akan berkurang sedikit karena ada tegangan drop pada dioda, namun pada gambar tersebut tegangan drop tersebut diabaikan dulu.
Jika tegangan output bridge diukur dengan voltmeter DC, maka yang diukur adalah rata-rata tegangan yang warna hijau. Rumusnya adalah Vaverage = 0.637 Vmax = 0.9 Vrms
Sumber rumurs: https://www.electronics-tutorials.ws/power/single-phase-rectification.html
Diagramnya sebagai berikut:
Sinyal hijau adalah output dari bridge, berupa sinyal sinusoidal yang sudah disearahkan.
Tegangan yang terukur pada voltmeter DC adalah rata-rata, yaitu sebesar 32.4 volt
Pada foto yang terukur adlah 34.6 volt, kemungkinan karena ketidaktepatan tegangan output transformator. Kalau mau lebih pasti, dapat diukur berapa tegangan output transformator atau input bridge dengan voltmeter AC (AVOmeter pada setting AC).
Tips: AVOmeter standar pada setting DC hanya dirancang untuk mengukur tegangan DC atau rata-rata, sedangkan pada setting AC hanya untuk mengukur tegangan AC rms (root-mean-square). Jika bentuk sinyalnya bukan DC atau AC murni, maka angka yang ditampilkan kurang tepat. Pada sinyal yang bukan DC ataupun AC murni, lebih tepat menggunakan osiloskop untuk mengukur sinyalnya.
Library FreeRTOS ini dapat diinstall di Arduino IDE dari menu Tools -> Manage Libraries. Kemudian search dengan kata kunci FreeRTOS.
Proses instalasi library FreeRTOS
Sebagai contoh, berikut ini diagram alir (flowchart) sebuah program yang membuat LED berkedip dengan 3 buah loop. Masing-masing LED memiliki frekuensi yang berbeda.
Dry cabinet berguna untuk menyimpan benda-benda yang mesti disimpan pada kelembaban rendah. Contohnya kamera dan lensa kamera. Selain Dry cabinet, bisa juga menggunakan dry box. Perbedaan utamanya: dry cabinet menggunakan pengering (dehumidifier) otomatis bertenaga listrik, sedangkan dry box mesti dikeringkan dengan pengering yang mesti diganti/diregenerasi jika sudah jenuh.
Berikut ini tahap-tahap memperbaiki dehumidifier pada dry cabinet Wonderful AD-068C. Singkat cerita ada kabel yang putus di dalamnya, sehingga proses pengeringan tidak bekerja.
Berikut ini tampak depan dari dry box Wonderful.
Berikut ini perangkat pengering yang terletak di bagian belakang box dry cabinet.
Pengering ini dapat dicopot dengan cara melepas dulu 4 sekrup di 4 pojoknya.
Berikut ini tampak belakang pengering yang sudah dicopot dari kotaknya.
Berikut ini tampak depan dari alat pengering. Nampak ada knop pengatur kelembaban. Fungsi knop ini adalah mengatur kelembaban yang ingin dicapai di dalam kotak dry box. Tidak ada angka kelembaban pada knop tersebut, sehingga penyetelan kelembaban lebih dengan cara trial-and-error.
Berikut ini bagian dalam dari kotak pengering.
Bagian dalam kotak pengering (bagian 1)
Berikut bagian dalam bagian depan yang berisi pengatur kelembaban.
Bagian dalam kotak pengering (bagian 2)
Setelah diperiksa ternyata ada sebuah kabel yang putus. Kabel tersebut fungsinya adalah pemanas pegas yang menggerakkan katup.
Setelah ketahuan masalahnya, kabel disambung dengan cara disolder. Beres.
Cara kerja kotak pengering ini menarik. Kira-kira sebagai berikut:
Sensor kelembaban mendeteksi kelembaban di dalam kotak dry cabinet. Jika kelembaban kurang dari batas tertentu, maka ada sebuah sakelar yang menjadi ON. Jika kelembaban sudah cukup rendah, sakelar menjadi OFF.
Komponen utama pengering adalah menggunakan butiran yang saya duga adalah silica-gel. Silica gel ini dapat menyerap air di udara, sehingga udara menjadi kering. Namun ada batasnya, sehingga kalau sudah jenuh maka silica gel ini tidak dapat menyerap air lagi.
Silica gel dikeringkan dengan cara dipanaskan dengan pemanas elektrik. Pemanas ini dikendalikan oleh sebuah pengendali (controller).
Ada sebuah katup yang mengatur apakah silica-gel terhubung ke dalam dry cabinet, atau terhubung ke luar dry cabinet.
Ketika sedang mengeringkan, maka silica gel mesti terhubung ke dalam dry cabinet, supaya dapat menyerap kelembaban di dalam dry cabinet.
Ketika silica-gel dipanaskan, maka silica gel mesti dihubungkan ke luar dry cabinet, supaya uap air yang dilepaskan tidak masuk lagi ke dalam dry cabinet.
Ada sebuah katup yang fungsinya menghubungkan silica gel ke luar atau ke dalam. Katup ini digerakkan oleh sebuah pegas. Uniknya, pegas ini mengecil jika dipanaskan, dan mengendor jika didinginkan. Dugaan saya pegas ini menggunakan logam-ingat-bentuk (shape-memory-alloy).
Ada 2 pemanas pada sistem ini, yang pertama fungsinya mengeringkan silica-gel, yang kedua fungsinya menggerakkan pegas katup.
Katup ketika ditarik oleh pegasKatup dengan pegas kendor
Tambahan pada artikel ini adalah dilakukan filtering dengan LPF untuk membantu memuluskan sinyal hasil sensor.
Sensor detak jantung dari pulsesensor.com
Tahap pengolahan sinyal adalah sebagai berikut:
Pulsesensor sebagai sumber sinyal yang berasal dari detak jantung
Sinyal tegangan dari sensor dimasukkan ke Filter resistor dan kapasitor sebagai low pass filter untuk menghindari terjadinya aliasing,
Tegangan hasil filter dimasukkan ke modul Arduino Nano untuk dikonversikan ke digital dengan ADC. Data disampling dengan frekuensi 1 kHz dengan ADC pada Arduino Nano,
Data digital kemudian dikirimkan dengan komunikasi serial asinkron dengan kecepatan 115200 bps melalui port USB ke desktop PC.
Data direkam di desktop PC dengan perangkat lunak RealTerm. Data direkam ke sebuah file TXT di PC.
Data hasil rekaman kemudian dianalisis dengan perangkat lunak python menggunakan Jupyter Notebook
Berikut ini diagram blok aliran sinyal pada sistem ini:
Berikut ini detail uraian aliran sinyal pada sistem tersebut
Sinyal hasil pengukuran dari ADCSinyal asli diperbesar
Tujuan dari sensor tersebut adalah mengukur detak jantung seseorang.
Ada beberapa hal yang mempersulit perhitungan detak jantung:
amplitudo sinyal berubah-ubah, tergantung kondisi tangan, tekanan pada sensor, dan sebagainya, sehingga batas ambang sinyal berubah-ubah
Sinyal detak jantung memiliki puncak yang tinggi, dan ada juga puncak yang lebih kecil. Mesti ada algoritma untuk mendeteksi puncak yang tinggi saja.
Sinyal hasil pengukuran ADC masih kurang rata, sehingga untuk membuat lebih halus dilakukan filtering pada frekuensi cut off 4 Hz. Frekuensi cut-off 4 Hz dipilih mengingat detak jantung maksimum orang normal adalah 220 per menit, atau setara 3,667 Hz. Jadi sinyal di atas frekuensi 3,667 Hz tidak diperlukan.
Filter menggunakan filter digital IIR 4 pole. Filter 6 pole menghasilkan filter yang tidak stabil, sehingga akhirnya dipakai 4 pole saja. Jenis filter IIR supaya perhitungan lebih sederhana, mengingat sistem ini akan diimplementasikan di mikrokontroler dengan kemampuan komputasi yang terbatas.
Desain filter menggunakan Iowa Hills IIR Filter Designer Version 6.5 sebagai berikut:
Implementasi filter dengan bahasa Python, menggunakan struktur filter “Nth Order Coeffiecients”.
Struktur filter IIR (Infinite Impulse Response) yang dipakai adalah sebagai berikut:
Hasil filter adalah sebagai berikut (sinyal merah).
Sinyal hasil filter dengan low pass dengan fc=4 Hz
Sinyal hasi pengukuran mengandung sinyal DC offset, sehingga rata-ratanya tidak 0. Untuk menghilangkan DC offset, dilakukan filtering dengan LPF pada 200 mHz. Filter 2 pole IIR.
Hasil filter adalah sebagai berikut (sinyal merah):
Sinyal hasil filter LPF 0.2 Hz
Sinyal tanpa offset diperoleh dengan sinyal hasil filter 4 Hz dikurangi dengan sinyal hasil filter di 0.2 Hz. Hasilnya adalah sinyal (warna biru) di gambar di bawah ini.
Sinyal biru kemudian disearahkan (rectified), sehingga didapat sinyal warna merah.
Sinyal hasil offset dan penyearahan
Sinyal hasil penyearahan difilter lagi dengan filter 0.2 Hz, untuk membantu deteksi puncak. Deteksi puncak agak sulit, karena dari hasil filter 4 Hz masih ada puncak kecil. Dengan sinyal hasil penyearahan diharapkan mampu mendeteksi puncak yang tinggi saja.
Gabungan sinyal
Proses terakhir adalah deteksi puncak. Hanya puncak yang tinggi yang dihitung.
Deteksi puncak pulsa denyut jantung
Penutup
Dari percobaan yang dilakukan, filtering (penapisan) analog dan digital dapat membantu membentuk sinyal supaya lebih mudah diproses.
Perangkat elektronik memerlukan sumber daya listrik. Salah satu sumber daya yang sering dipakai adalah adaptor. Kebutuhan listrik perangkat biasanya dinyatakan dalam tegangan dan arus, misal 12 volt, 5 ampere. Salah satu permasalahan yang sering membingungkan adalah bagaimana kalau adaptor yang tersedia tegangannya cocok, namun ampernya lebih besar dari yang diperlukan.
Persoalan
Contoh persoalannya sebagai berikut:
Maaf mau tanya tentang adaptor. Apakah adaptor 12 volt 5 Ampere (anggap saja murni 5 ampere), itu artinya dia mengeluarkan tegangan 12 volt dan arus konstan 5 ampere ? Atau arus yg dikeluarkan hanya sesuai kebutuhan beban yg dilalui ? Misal bebannya lampu 12 volt 1A, jika di beri adaptor 12 volt 5 A, maka output adaptor tersebut hanya 12 volt 1A sesuai beban nya ?
Atau malah sebaliknya, lampu nya bisa rusak karena keluaran dari adaptor full 5 Ampere.
Jawaban
Adaptor yg banyak dijual umumnya dapat dipandang sebagai sumber tegangan. Artinya adaptor menjaga tegangan konstan, sementara arus berubah sesuai keperluan. Adaptor punya batas arus maksimum, di atas batas itu tegangan tidak bisa dijaga (turun) atau sekringnya putus.
Jadi penggunaan adaptor yang arusnya lebih besar daripada yang diperlukan tidak menjadi masalah. Adaptor akan memberikan tegangan sesuai dengan yang disebutkan (misal 12 volt), sedangkan arus yang disediakan akan disesuaikan dengan arus yang diperlukan oleh perangkat elektronik tersebut. Biasanya arus yang diperlukan akan berubah-ubah tergantung apa yang sedang dikerjakan oleh perangkat tersebut.
Apa yang terjadi kalau adaptor dengan arus besar dihubungkan ke beban yang arusnya lebih kecil dari arus adaptor? Pada kasus ini adaptor akan mengeluarkan tegangan sesuai spesifikasinya, misal 12 volt, sedangkan arusnya disesuaikan dengan kebutuhan dari beban. Jika beban perlu 1 ampere sedangkan adaptor 5 ampere, maka arus yang keluar hanya akan di 1 ampere saja.
Apa yang terjadi kalau adaptor dengan dihubungkan ke beban yang arusnya lebih besar daripada kemampuanarus adaptor? Pada kasus ini dapat terjadi beberapa kemungkinan:
Pada adaptor yang bagus dengan pengaman arus lebih: adaptor jenis ini jika arus yang diminta terlalu besar, maka arusnya akan dibatasi. Konsekuensinya tegangan keluaran akan turun.
Pada adaptor yang bagus dengan pengaman tipe foldback: adaptor jenis ini jika arus yang diminta terlalu besar, maka arusnya akan diperkecil dan juga tegangan akan dikurangi. Adaptor perlu direset / dimatikan dulu supaya dapat kembali ke kondisi semula.
Adaptor dengan fuse/sekering resettable: fuse akan memanas dan akan akan mengurangi arus. Kalau fuse dingin, adaptor kembali ke keadaan semula.
Adaptor dengan sekering biasa: sekering akan putus dan perlu diganti baru
Adaptor tanpa pengaman: dapat terjadi panas berlebih yang merusak adaptor, atau ada komponen yang rusak/ terbakar.
Perbandingan power supply omron dengan power supply lain
Pengarang artikel tersebut menulis buku kendali digital yang cukup lengkap, membahas dari teori kendali digital sampai source code, minus rotary encoder & PWM. Tim Wescott, Applied Control Theory for Embedded Systems, Newnes 2006
Beberapa masalah:
Kemarin saya sempat utak-atik beberapa jam, ringkasannya sebagai berikut.
Beberapa hal yang mungkin membuat masalah:
1. spesifikasi rotary encoder, sanggup sampai berapa rpm?
2. interfacing encoder ke mikroprosesor. apakah sinyal dari encoder diterima dengan baik di mikroprosesor?
3. setting interupsi eksternal, apakah sudah betul?
4. waktu untuk interupsi: apakah CPU cukup cepat mengolah data sebelum interupsi berikutnya datang? Apakah interupsi yang lebih rendah prioritasnya mendapat jatah CPU?
5. apakah ada proses lain di mikroprosesor yang rebutan jatah CPU?
Tahap-tahap simulasi pengolahan sinyal digital dengan LTSpice, dan compiler C
Dokumen ini fokus pada menunjukkan terjadinya proses di setiap tahap dan integrasi proses-proses tersebut, tidak membahas optimasi sistem ataupun subsistem.
Persiapan
install LTSpice
install JDK untuk Netbeans 8.2
Install Netbeans 8.2 untuk IDE compiler C
Install Cygwin dan compiler gcc di Cygwin
Install Python 3.x
Install library SciPy untuk melakukan konversi file WAV
Install Arduino IDE untuk kompilasi kode ATmega328
Proses aliran sinyal pada pengolahan sinyal digital lengkap adalah sebagai berikut (sumber):
Berikut ini diagram sinyal yang akan disimulasikan
Tahap simulasi ringkas:
Input AC dan rangkaian analog disimulasikan dengan LTSPice
Kuantisasi di ADC disimulasikan dengan program C
Filter digital disimulasikan dengan program bahasa C
DAC disimulasikan dengan program bahasa C
Reconstruction filter disimulasikan dengan LTSpice
Simulasi
ini hanya untuk menunjukkan kerangka kerja untuk melakukan simulasi
filter digital, maka dilakukan penyederhanaan sebagai berikut
Filter
anti aliasing menggunakan filter RC orde 1, tanpa menghitung nilai
frekuensi cut-offnya. Dalam tugas mesti diperhatikan frekuensi cut off,
orde filter dan jenis filter
Filter rekonstruksi menggunakan filter RC orde 1, tanpa menghitung nilai frekuensi cut-offnya.
Filter digital menggunakan moving average dengan 3 angka. Seharusnya menggunakan LPF,HPF BPF, BSF sesuai keperluan.
Hanya
menghitung respon pada 1 frekuensi. Seharusnya diukur respon pada
beberapa frekuensi untuk mendapatkan kurva respon frekunsi / Bode plot.
Output
WAV di LTSpice memiliki keterbatasan yaitu hanya mempunyai level
tegangan -1 volt sampai +1 volt, sehingga untuk subsistem yang memiliki
input/output melebihi rentang tersebut mesti dilakukan penyesuaian, atau
simulasi dilakukan hanya pada rentang -1 sampai +1 volt.
Tahap Simulasi Secara Detail
Simulasi di Komputer Desktop
Buat simulasi rangkaian analog bagian depan meliputi sumber tegangan
AC, LPF, level shift, penguat dan sebagainya. Output blok ini akan masuk
ke ADC, jadi seharusnya level tegangannya sudah sesuai dengan level
tegangan input ADC. ATmega328 dapat diatur referensinya di 2,56 volt
atau VCC. Dalam prakteknya, VCC kurang stabil, lebih baik pakai
referensi internal atau eksternal.
16 : bitrate jumlah bit, berapa saja karena nanti akan dipotong pada waktu kuantisasi
10000 : frekuensi sampling 10 kHz
VIN : nama label yang dijadikan winyal WAV (kanal 1)
OUTPUT : nama label yang dijadikan sinyal WAV (kanal 2)
Sampling rate disamakan dengan frekuensi sampling dari software (misal 10 kHz)
Bitrate pakai yang besar saja (misal 16 bit), nanti dapat dibulatkan di program C. Realitasnya adalah nanti dibulatkan sesuai dengan jumlah bit pada ADC (10 bit pada ATmega328)
Berikut tampilan V(vin) dan V(output). NampakV(output) teredam sedikit dan bergeser fase sedikit.
Seharusnya sinyal V(output) sudah dalam batas tegangan 0 sampai VREF.
Sinyal V(output) di atas belum cocok untuk dimasukkan ke ADC karena ADC
pada ATmega328 hanya menerima sinyal dengan tegangan 0 volt sampai
VREF.
Simulasi pada LTSPice di atas menghasilkan output time series dalam format WAV.
Periksai sinyal output pada file WAV dengan program yang dapat menampilkan file WAV (misal Audacity https://www.audacityteam.org/) , pastikan bahwa sinyal WAV yang dihasilkan ‘masuk akal’.
Berikut contoh tampilan file WAV (anti-aliasing-out.wav) dengan Audacity:
Selanjutnya file WAV diubah menjadi CSV supaya mudah dibaca oleh program simulator filter. Kalau ada librarynya, bisa juga file WAV langsung dibaca dengan program simulator filter.
Contoh converter: https://github.com/Lukious/wav-to-csv , diubah sedikit menjadi script wav2csv.py di repository. Install python, scipy dan panda untuk dapat menjalankan wav2csv.py
File anti-aliasing-out.wav diubah menjadi anti-aliasing-out.csv
Cek isi file CSV, bisa dilihat dengan Excel untuk melihat apakah hasilnya sesuai.
Berikut contoh file CSV dilihat di Excel: (anti-aliasing-out.xlsx)
Selanjutnya jalankan program simulator filter digital
(simulasi-filter/main.c) . Program ini membaca file CSV, kemudian data
time series dimasukkan ke fungsi filter_moving_average. Output ditulis
ke sebuah text file dalam format CSV (“simulasi-filter.csv”).
ADC
disimulasikan dengan melakukan kuantisasi sinyal LPF_OUT sejumlah
resolusi ADC yang dipakai. ATmega328 mempunyai resolusi 10 bit, sehingga
sinyal LPF_OUT mesti dikuantisasi menjadi angka 0 sampai 1023 (1024
tingkat).
Untuk
memastikan, dapat dibandingkan antara sinyal output dari generator
sinyal, sinyal masuk ke ADC, dan sinyal hasil filter digital.
Berikut grafik VIN, LPF_OUT dan FILTER_OUT (simulasi-filter.xlsx)
Tahap selanjutnya adalah membuat sinyal output DAC dalam format WAV dan kemudian simulasi reconstruction filter dengan LTSpice.
Output DAC adalah dalam bentuk zeroth order hold, contohnya seperti berikut ini: (sumber)
Untuk menghasilkan sinyal zeroth order hold, perlu dilakukan hal berikut
melakukan
kuantisasi output sesuai dengan resolusi DAC yang dipakai. Pada sistem
ini digunakan DAC MCP4725 mempunyai resolusi 12 bit. Jika dipakai ESP32,
maka mesti menggunakan resolusi 8 bit.
menaikkan sampling rate,
untuk simulasi terjadinya sinya berbentuk anak tangga (staircase).
Misal dengan menaikkan jadi 10x sinyal sampling saat ini menjadi 100
kHz.
Potensiometer dapat dipakai sebagai sumber tegangan sebagai sinyal untuk dimasukkan ke sistem mikroprosesor seperti Arduino.
Bandwidth suatu potensiometer perlu diukur untuk mengetahui apakah akan terjadi aliasing ketika sinyal analog dari potensiometer diubah menjadi digital dengan teknik sampling.
Berikut ini contoh grafik tegangan output dari potensiometer, diukur dengan ADC di Arduino Nano (ATmega328).